Merapi Tak Pernah Janji

[Merapi Tak Pernah Ingkar Janji]
Merapi Tak Pernah Ingkar Janji
Latar Belakang Merapi

Kegiatan pendakian gunung saat ini banyak diminati oleh kalangan muda, salah satunya Gunung Merapi yang mendapatkan tempat tersendiri di hati para pencinta alam. Mencapai Puncak Garuda dengan ketinggian 2980 mdpl merupakan suatu kebanggaan dan kesenangan tersendiri bagi mereka. Akan tetapi, perlu diingat bahwa Gunung Merapi adalah gunung aktif yang aktivitasnya dapat meningkat sewaktu-waktu sehingga perlu untuk diwaspadai.

Gunung Merapi merupakan salah satu gunung berapi aktif yang terletak di Pulau Jawa, Indonesia. Secara geografis, Gunung Merapi terletak di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Gunung Merapi secara fisiografi termasuk dalam Zona Solo yang tersusun atas jajaran pegunungan berapi yang membentang dari utara ke selatan, meliputi Gunung Ungaran, Gunung Soropati-Telemojo, Gunung Merbabu, dan Gunung Merapi (van Bemmelen, 1949).

PVMBG BPPTKG Merapi menyatakan banyak catatan sejarah yang menunjukkan tanda-tanda sebelum gunung meletus yang dirasakan oleh penduduk sekitar. Tanda-tanda tersebut dapat berupa bau belerang yang meningkat tajam, warna asap yang berubah menjadi gelap, suara gemuruh, layunya tumbuhan di sekitar puncak gunungapi, dan lain-lain. Pemantauan dini ini seringkali dinilai sangat efektif, namun masih memiliki kelemahan pada tingkat akurasi dan tingkat subjektivitas yang cukup tinggi.

Menurut PVMBG BPPTKG Merapi, gunung ini menarik banyak ilmuwan dunia untuk melakukan riset di sana karena tingkat aktivitas yang tinggi dan relatif kontinyu serta periode erupsinya di era modern ini yang relatif pendek, yaitu antara 2-8 tahun. Periode erupsi yang singkat ini memungkinkan para ilmuwan untuk menguji metode dan peralatan dengan melihat data yang diperoleh sebelum dan sesudah erupsi, di antaranya data komposisi gas gunungapi pada beberapa lapangan solfatara di puncak, berbagai tipe dan jenis gempa, deformasi tubuh gunungapi, kemagnetan Bumi, perubahan medan gravitasi dan potensial diri batuan, dan sebagainya.

Sejak awal abad ke-20, peristiwa erupsi Gunung Merapi telah dipantau dan dipelajari secara intensif. Pada periode 3000-250 tahun yang lalu tercatat lebih kurang 33 kali letusan dimana tujuh di antaranya merupakan letusan besar. Data tersebut menunjukkan bahwa letusan besar terjadi sekali dalam 150-500 tahun (Andreastuti et al, 2000). Sejak tahun 1768 sudah tercatat lebih dari delapan puluh kali letusan. Di antara letusan tersebut, tercatat pernah terjadi letusan besar pada periode abad ke-19 (letusan tahun 1768, 1822, 1849, 1872) dan periode abad ke-20 yaitu 1930-1931. Erupsi abad ke-19 memiliki intensitas letusan yang lebih besar sedangkan letusan abad ke-20 memiliki frekuensi yang lebih sering. Letusan besar kemungkinan terjadi sekali dalam 100 tahun (Newhall et al, 2000).

Dalam catatan sejarah, erupsi Gunung Merapi pada umumnya tidaklah besar. Erupsi yang terjadi rata-rata berada pada indeks letusan VEI (Volcano Explosivity Index) antara 1-3. Pada abad ke-20, letusan terbesar terjadi pada tahun 1931 dan 1961 dengan indeks letusan VEI 3. Erupsi Gunung Merapi selain tahun 1931 dan 1961 berada pada indeks letusan 1 sampai 2. Meski umumnya letusan Merapi tergolong kecil, Merapi pernah mengalami erupsi besar yang terekam dalam bukti stratigrafi di lapangan berupa endapan awan panas yang diduga berasal dari letusan besar Merapi. Letusan besar dapat bersifat eksplosif dengan jangkauan awan panas mencapai 15 km.

Kondisi Merapi 2018-2019

Menurut BMKG (2018), erupsi pada tanggal 11 Mei 2018 dinilai cukup mendadak karena tidak diawali dengan precursor dan tanda-tanda peningkatan kegempaan yang tercatat sebelum terjadinya erupsi. Dari beberapa hasil yang didapatkan dari BPPTKG, disimpulkan bahwa letusan ini merupakan letusan minor dan termasuk ke dalam erupsi freatik yang didominasi oleh uap air (Gambar 1).

Letusan kembali terjadi pada tanggal 24 Mei 2018 dan menghasilkan kolom setinggi 6000 meter ke arah barat daya, dengan diawali gempa berdurasi empat menit dan gemuruh yang terdengar di seluruh pos pengamatan Gunung Merapi (BMKG, 2018). Semenjak erupsi ini, status Gunung Merapi naik dari level I (Normal) menjadi level II (Waspada). Hujan abu terjadi di beberapa desa yaitu Tegalrandu, Sumber, Dukun, Ngadipiro, Banyubiru, Muntikan, Mungkid, Menayu, Kalibening, dan Salaman. Letusan selanjutnya terjadi pada tanggal 1 Juni 2018 pukul 08.20 WIB (Gambar 1). Menurut BMKG (2018), letusan menghasilkan kolom setinggi 6000 m ke arah barat laut dilihat dari Pos Pengamatan Gunung Merapi Jrakah, Selo, Boyolali. Setelah kejadian erupsi Merapi 1 Juni, status gunung api masih tetap pada level II.

Menurut hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Setijadji, et. al (2018), karakter tephra 1 Juni 2018 lebih kaya material juvenile dan bersifat magmatic, sedangkan erupsi 11 Mei 2018 merupakan erupsi vulkanik jenis freatik karena kaya litik batuan yang berasal dari erupsi Merapi sebelumnya.

Gambar 1. Dokumentasi erupsi Gunung Merapi 11 Mei dan 1 Juni 2018, diolah dari pemberitaan Kompas (https://kompas.id).

Gunung yang mempunyai dua jalur pendakian yang lazim dilalui oleh para pendaki yaitu jalur Selo (utara) dan jalur Babadan (barat) ini membuktikan bahwa gunung ini memang dan masih aktif hingga saat ini. Kesimpulan hasil laporan mingguan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) tanggal 19-25 April 2019 menunjukkan bahwa kubah lava saat ini dalam kondisi stabil dengan laju pertumbuhan yang masih relatif rendah namun dengan aktivitas vulkanik yang masih cukup tinggi sehingga sejak tahun 2018 ditetapkan dalam tingkat aktivitas “Waspada”. Berdasarkan status Gunung Merapi tersebut, PVMBG BPPTKG Yogyakarta merekomendasikan agar: 1) Radius 3 km dari puncak dikosongkan dari aktvitas penduduk dan pendakian; 2) Masyarakat di sekitar aliran Kali Gendol meningkatkan kewaspadaan karena sudah terjadinya beberapa kali awan panas dengan jarak luncur yang semakin besar; 3) Masyarakat sekitar dihimbau untuk mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik, waspada terhadap bahaya lahar karena guguran lava dan awan panas yang berpotensi menimbulkan hujan abu, serta ancaman lahar dingin terutama saat terjadi hujan di sekitar puncak Gunung Merapi.

DAFTAR PUSTAKA

Andreastuti S.D., Alloway B.V., Smith I.E.M. 2000. “A Detailed Tephrostratigraphic Framework at Merapi Volcano, Central Java, Indonesia: Implications for Eruption Prediction and Hazard Assessment”. Journal of Volcanology and Geothermal Research, 100, 51–67.

BPPTKG. 2000. Karakteristik Gunung Merapi. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian Direktorat Vulkanologi.

________. 2019. Laporan Aktivitas Gunung Merapi Tanggal 19-25 April 2019. Dikuti dari http://www.merapi.bgl.esdm.go.id/ pada 27 April 2019.

Newhall, C., Bronto, S., Alloway, B.V., Andreastuti, S., Banks, N.G., Bahar, I., Del Marmol, M.A., Hadisantono, R.D., Holcomb, R.T., McGeehin, J., Miksic, J.N., Rubin, M., Sayudi, S.D., Sukhyar, R., Tilling, R.I., Torley, R., Trimble, D., Wirakusumah, A.D. 2000. “10,000 Years of Explosive Eruptions at Merapi Volcano, Central Java: Archaeological and Modern Implications”. Journal of Volcanology and Geothermal Research, 100, 9–50.

Setijadji, L.D., Jane, J., Situmorang, N.G., Wiguna, A. 2018. “Erupsi Merapi 2018: Interpretasi Jenis Erupsi Berdasarkan Studi Material Vulkanik Hasil Erupsi Eksplosif 11 Mei dan 1 Juni 2018”. Proceeding Seminar Nasional Kebumian ke-11, OVK-3, 908-917.

van Bemmelen, R.W. 1949. The Geology of Indonesia, vol. 1A General Geology. Government Printing Office The Hague.

Redaktur: Jesslyn Jane, Rafi Hidayat
Editor: Tsabita Hanun M.
Poster: Ar Rafyasta Islamy M.

Ikuti kami di media sosial!
Line: line.me/R/ti/p/%40jns7950h
Instagram: instagram.com/bumigadjahmada/

#BumiGadjahMada
#MemahamiBumiMemaknaiKehidupan

Leave A Comment

Your email address will not be published.

*